Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Gema nusantara
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Iklan
    • Home
    • Hukum
    • Pajak
    • Politik
    • Investasi
    • Ekonomi
    • Budaya
    • Sosial
    • Teknologi
    Gema nusantara
    Home » Rupiah Jatuh ke Rp17.796 per Dolar AS, Stabilitas Ekonomi Diuji
    Ekonomi

    Rupiah Jatuh ke Rp17.796 per Dolar AS, Stabilitas Ekonomi Diuji

    TresnandaBy TresnandaMay 26, 2026
    Share
    Facebook Twitter Email WhatsApp

    GemaNusantara.id – Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan serius. Pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, rupiah di pasar spot melemah Rp52 atau 0,29% ke level Rp17.796 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut disebut sebagai level terlemah rupiah sepanjang sejarah.

    Pelemahan juga terjadi pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia, yang turun Rp46 atau 0,26% ke posisi Rp17.789 per dolar AS. Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi juga tercermin pada kurs acuan resmi.

    Tekanan Beruntun terhadap Rupiah

    Rupiah tercatat melemah dalam empat hari perdagangan berturut-turut. Salah satu faktor yang membebani rupiah adalah kekhawatiran terhadap harga minyak yang masih tinggi. Sebagai negara importir bersih minyak, Indonesia menghadapi risiko membesarnya beban impor energi.

    Kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah tekanan terhadap subsidi energi. Jika beban subsidi membengkak, ruang fiskal pemerintah dapat ikut tertekan dan risiko defisit fiskal menjadi perhatian pasar.

    Selain faktor energi, pasar juga mencermati potensi pelebaran defisit transaksi berjalan. Ketergantungan terhadap impor minyak membuat pergerakan harga energi global memiliki dampak langsung terhadap kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

    BI Sudah Naikkan Suku Bunga

    Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan BI Rate. Langkah ini diharapkan dapat memperlebar selisih imbal hasil antara Indonesia dan negara maju seperti Amerika Serikat, sehingga menarik minat investor menempatkan dananya di pasar keuangan domestik.

    Namun, pelemahan rupiah menunjukkan bahwa pasar masih mencermati sejumlah risiko eksternal dan domestik. Kebijakan moneter saja tidak selalu cukup apabila tekanan berasal dari kombinasi harga komoditas, arus modal, kebutuhan impor, dan persepsi terhadap ketahanan fiskal.

    Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah

    Tekanan terhadap rupiah terjadi saat mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 0,50%, ringgit Malaysia turun 0,37%, rupee India melemah 0,33%, yen Jepang melemah 0,18%, dan peso Filipina turun 0,17%.

    Meski demikian, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian karena levelnya sudah menembus rekor terendah. Dalam situasi seperti ini, stabilitas nilai tukar menjadi penting tidak hanya bagi pasar keuangan, tetapi juga bagi dunia usaha dan masyarakat luas.

    Dampak ke Dunia Usaha dan Masyarakat

    Pelemahan rupiah dapat berdampak pada biaya impor bahan baku, barang modal, energi, serta produk konsumsi tertentu. Bagi pelaku usaha yang bergantung pada komponen impor, kondisi ini dapat menaikkan biaya produksi.

    Jika tekanan berlanjut, pelaku usaha berpotensi menghadapi pilihan sulit: menahan margin keuntungan atau menaikkan harga jual. Pada akhirnya, masyarakat dapat ikut merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang tertentu.

    Karena itu, pemerintah dan otoritas moneter perlu menjaga koordinasi kebijakan. Stabilitas rupiah tidak cukup dijaga melalui instrumen suku bunga, tetapi juga membutuhkan penguatan kepercayaan pasar, pengendalian impor strategis, menjaga kredibilitas fiskal, serta memastikan subsidi energi tetap tepat sasaran.

    Penutup

    Pelemahan rupiah ke level Rp17.796 per dolar AS menjadi sinyal penting bagi perekonomian nasional. Kondisi ini bukan sekadar persoalan angka kurs, melainkan menyangkut daya tahan fiskal, daya beli masyarakat, biaya produksi dunia usaha, dan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

    Dalam situasi penuh tekanan, respons kebijakan yang terukur, transparan, dan konsisten menjadi kunci agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas.

    Bank Indonesia BI Rate daya beli masyarakat Defisit Fiskal Dolar AS dunia usaha ekonomi Indonesia GemaNusantara.id Harga Minyak Inflasi Kurs Rupiah Nilai Tukar Rupiah Pasar Keuangan rupiah Rupiah Melemah Subsidi Energi
    Share. Facebook Twitter Tumblr Email WhatsApp

    Related Posts

    Eko Wahyu: Lawan Inflasi dengan Menjadi Investor

    May 28, 2026

    Yulianto: Emas Cocok Jangka Panjang, Dolar Kuat untuk Likuiditas Global

    May 28, 2026

    Perkara Pajak Johan Antonius Baru Disidangkan Setelah Lima Bulan

    May 27, 2026
    Terkini
    Ekonomi

    Tingkatkan Kompetensi Pajak, FERADI WPI Gelar Pelatihan C.FTAX

    By TresnandaMay 23, 20260

    GemaNusantara.id – Semarang, 23 Mei 2026 — Kebutuhan tenaga profesional yang memahami hukum pajak, prosedur…

    Tim Subur Jaya Lawfirm dan FERADI WPI Perkuat Pendampingan Hukum di Yogyakarta

    May 20, 2026

    Target Pajak 2026 Melonjak, Yulianto: Jangan Korbankan Kepastian Hukum Wajib Pajak

    May 25, 2026

    Rupiah Tertekan, BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25%

    May 21, 2026
    Tentang Kami

    PT GEMA NUSANTARA INDONESIA adalah perusahaan media digital yang menaungi GemaNusantara.id sebagai platform media siber dengan tagline “Berita untuk Indonesia”.

    Update

    Kepatuhan Hukum Acara Pengadilan Pajak Dipertanyakan

    May 28, 2026

    Eko Wahyu: Lawan Inflasi dengan Menjadi Investor

    May 28, 2026
    Kontak

    Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia
    NIA : 001.0001.000088

    Email : saintadipati@gmail.com
    Kontak: 0888xxxxxxxxx

    Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Peraturan Media Siber
    • Redaksi
    • Kontak
    © 2026 Gema Nusantara.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.