Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Gema nusantara
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Iklan
    • Home
    • Hukum
    • Pajak
    • Politik
    • Investasi
    • Ekonomi
    • Budaya
    • Sosial
    • Teknologi
    Gema nusantara
    Home » Eko Wahyu: Lawan Inflasi dengan Menjadi Investor
    Ekonomi

    Eko Wahyu: Lawan Inflasi dengan Menjadi Investor

    TresnandaBy TresnandaMay 28, 2026
    Share
    Facebook Twitter Email WhatsApp

    GemaNusantara.id – Surabaya, 28 Mei 2026 — Daya beli masyarakat kembali menjadi sorotan di tengah tekanan harga kebutuhan pokok dan pelemahan nilai tukar rupiah. Uang Rp50.000 yang pada 2007 masih dapat digunakan untuk membeli sekitar 10 kilogram beras, kini nilainya jauh menyusut. Dengan harga beras medium di kisaran Rp16.000 per kilogram pada 2026, uang yang sama hanya cukup untuk membeli sekitar 3 kilogram beras.

    Perbandingan tersebut menunjukkan persoalan serius: bukan sekadar harga naik, tetapi daya beli masyarakat yang terus tergerus. Pada November 2007, harga rata-rata beras di 26 kota provinsi tercatat sekitar Rp5.037 per kilogram. Sementara pada Maret 2026, data PIHPS yang dikutip Katadata mencatat rata-rata beras medium I di pasar modern berada di kisaran Rp16.110 per kilogram. Artinya, daya beli uang Rp50.000 terhadap beras turun sekitar 69 persen.

    Praktisi pajak sekaligus pemegang Izin Kuasa Hukum (IKH) di Pengadilan Pajak, Eko Wahyu Pramono, S.Tr.P., S.Ak, menilai kondisi ini harus dibaca sebagai peringatan keras bagi masyarakat. Menurutnya, bekerja keras saja tidak cukup apabila penghasilan tidak diikuti kemampuan mengelola aset.

    “Masalah utama masyarakat bukan hanya harga barang naik, tetapi uang yang disimpan tanpa strategi perlahan kehilangan tenaga. Orang merasa bekerja keras, tetapi nilai uangnya terus melemah. Itu sebabnya literasi keuangan tidak boleh lagi dianggap urusan orang kaya,” ujar Eko.

    Rupiah Melemah, Daya Beli Tertekan

    Tekanan terhadap daya beli semakin terasa ketika rupiah bergerak lemah terhadap dolar Amerika Serikat. Data Bank Indonesia pada 26 Mei 2026 menunjukkan kurs transaksi BI untuk dolar AS berada pada kurs jual Rp17.831,72 dan kurs beli Rp17.654,28.

    Di sisi lain, polemik juga muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari. Pernyataan tersebut memicu kritik karena pelemahan rupiah tetap dapat menjalar ke harga barang, terutama melalui komponen impor, energi, pangan, bahan baku, dan logistik.

    Eko menilai pernyataan pejabat publik soal rupiah seharusnya disampaikan dengan hati-hati. Menurutnya, masyarakat memang tidak membeli beras dengan dolar, tetapi banyak pembentuk harga dalam ekonomi tetap dipengaruhi oleh kurs.

    “Orang desa memang tidak belanja pakai dolar. Tetapi pupuk, BBM, alat produksi, bahan baku, dan logistik bisa terpengaruh oleh nilai tukar. Kalau kurs melemah, dampaknya bisa masuk ke harga barang. Jadi persoalannya bukan apakah rakyat memegang dolar atau tidak, tetapi apakah biaya hidup mereka ikut naik atau tidak,” tegasnya.

    Eko: Satu Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Investor

    Menurut Eko, solusi jangka panjang bukan sekadar mengeluh terhadap inflasi, melainkan membangun kesadaran bahwa setiap profesi perlu memahami investasi. Ia menilai dokter, advokat, pedagang, petani, pekerja kantoran, hingga pelaku UMKM harus mulai mengenal cara menjaga nilai aset.

    Namun, Eko menekankan bahwa menjadi investor berbeda dengan menjadi trader spekulatif. Investasi harus berbasis tujuan, profil risiko, instrumen legal, serta pemahaman terhadap aset yang dibeli. Sementara trading membutuhkan disiplin, manajemen risiko, dan tidak boleh dilakukan dengan mental ingin cepat kaya.

    “Banyak orang baru belajar chart dan candlestick lalu merasa itu satu-satunya jalan mengubah hidup. Di situ bahayanya. Kalau literasi lemah, orang mudah berubah dari investor menjadi penjudi pasar. Greedy, serakah, lalu hancur oleh ekspektasinya sendiri,” katanya.

    Literasi Keuangan Masih Jadi PR Besar

    Data OJK dan BPS dalam SNLIK 2025 mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Artinya, akses masyarakat terhadap produk keuangan sudah relatif luas, tetapi pemahaman terhadap risiko, manfaat, dan cara menggunakannya masih perlu diperkuat.

    Eko menilai kesenjangan antara akses dan pemahaman inilah yang membuat masyarakat rentan. Banyak orang sudah memiliki rekening, aplikasi investasi, dompet digital, bahkan akun trading, tetapi belum tentu memahami perbedaan antara menabung, investasi, spekulasi, dan berjudi.

    “Tujuan pertama masyarakat bukan langsung kaya. Tujuan pertama adalah mengalahkan inflasi. Kalau inflasi menggerus uang, maka masyarakat harus belajar membuat asetnya ikut bertumbuh. Bukan asal masuk pasar, bukan ikut-ikutan, bukan karena FOMO,” jelasnya.

    Jangan Biarkan Uang Diam Dimakan Inflasi

    Eko menyebut masyarakat perlu mulai menyusun strategi keuangan sederhana: memiliki dana darurat, mengurangi utang konsumtif, memahami instrumen investasi legal, dan membangun portofolio sesuai kemampuan. Menurutnya, investasi tidak harus dimulai dari nominal besar, tetapi harus dimulai dari pemahaman yang benar.

    Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak melihat investasi sebagai pelarian dari pekerjaan utama. Seorang advokat tetap harus profesional di persidangan, dokter tetap fokus pada pasien, pedagang tetap mengurus bisnisnya, dan petani tetap mengelola produksi. Investasi hadir sebagai alat menjaga masa depan, bukan pengganti tanggung jawab utama.

    “Pagi sampai sore orang boleh bekerja sesuai profesinya. Malam hari ia bisa belajar membaca peluang, memahami aset, dan menyusun portofolio. Tapi jangan dibalik: pekerjaan ditinggalkan, lalu hidup hanya mengejar candle. Itu bukan literasi, itu jebakan,” ujar Eko.

    Negara Perlu Serius Mendidik Masyarakat

    Eko menegaskan peningkatan literasi keuangan harus menjadi agenda nasional. Menurutnya, rakyat tidak cukup hanya diminta bekerja keras, membayar pajak, dan bertahan menghadapi harga yang naik. Negara juga harus hadir memberi pendidikan finansial yang praktis, mudah dipahami, dan menjangkau masyarakat bawah.

    “Inflasi tidak menunggu orang menjadi pintar. Nilai uang terus bergerak. Kalau masyarakat tidak diajari, mereka akan kalah pelan-pelan. Karena itu, literasi keuangan harus masuk ke ruang publik, sekolah, kampus, komunitas profesi, UMKM, sampai desa,” katanya.

    Menurut Eko, dalam situasi seperti ini, kesadaran menjadi investor bukan lagi gaya hidup kelas menengah atas. Ia menyebutnya sebagai kebutuhan bertahan hidup di tengah perubahan ekonomi.

    “Sekarang targetnya sederhana dulu: jangan biarkan uang kita kalah oleh inflasi. Setelah itu baru bicara pertumbuhan aset. Satu Indonesia harus melek investasi, tetapi dengan kepala dingin, bukan dengan keserakahan,” tutupnya.

    aset Daya Beli Edukasi Finansial Eko Wahyu Pramono ekonomi Indonesia GemaNusantara Harga Beras Inflasi Investasi Investor Keuangan Pribadi Literasi Keuangan Nilai Tukar Rupiah OJK Pajak dan Ekonomi Portofolio Rupiah Melemah Trading
    Share. Facebook Twitter Tumblr Email WhatsApp

    Related Posts

    Yulianto: Emas Cocok Jangka Panjang, Dolar Kuat untuk Likuiditas Global

    May 28, 2026

    Insentif EV Rp5 Juta untuk Motor Listrik Tertunda

    May 27, 2026

    Royalti Penulis Dipajaki 1,5%

    May 27, 2026
    Terkini
    Ekonomi

    Tingkatkan Kompetensi Pajak, FERADI WPI Gelar Pelatihan C.FTAX

    By TresnandaMay 23, 20260

    GemaNusantara.id – Semarang, 23 Mei 2026 — Kebutuhan tenaga profesional yang memahami hukum pajak, prosedur…

    Tim Subur Jaya Lawfirm dan FERADI WPI Perkuat Pendampingan Hukum di Yogyakarta

    May 20, 2026

    Target Pajak 2026 Melonjak, Yulianto: Jangan Korbankan Kepastian Hukum Wajib Pajak

    May 25, 2026

    Rupiah Tertekan, BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25%

    May 21, 2026
    Tentang Kami

    PT GEMA NUSANTARA INDONESIA adalah perusahaan media digital yang menaungi GemaNusantara.id sebagai platform media siber dengan tagline “Berita untuk Indonesia”.

    Update

    Kepatuhan Hukum Acara Pengadilan Pajak Dipertanyakan

    May 28, 2026

    Eko Wahyu: Lawan Inflasi dengan Menjadi Investor

    May 28, 2026
    Kontak

    Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia
    NIA : 001.0001.000088

    Email : saintadipati@gmail.com
    Kontak: 0888xxxxxxxxx

    Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Peraturan Media Siber
    • Redaksi
    • Kontak
    © 2026 Gema Nusantara.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.