Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Gema nusantara
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Iklan
    • Home
    • Hukum
    • Pajak
    • Politik
    • Investasi
    • Ekonomi
    • Budaya
    • Sosial
    • Teknologi
    Gema nusantara
    Home » Warisan Filsafat Jawa Ki Ageng Suryomentaram dalam Pandangan Eko Wahyu Pramono
    Budaya

    Warisan Filsafat Jawa Ki Ageng Suryomentaram dalam Pandangan Eko Wahyu Pramono

    TresnandaBy TresnandaJune 28, 2026
    Share
    Facebook Twitter Email WhatsApp

    Global-Nusantara.id – Yogyakarta, 28 Juni 2026 – Filsafat Ki Ageng Suryomentaram dinilai tetap relevan untuk dibaca dan direnungkan di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, kompetisi, serta kegelisahan batin. Ajaran tentang Kawruh Jiwa atau ilmu memahami diri sendiri dianggap tidak hanya penting dalam kehidupan pribadi, tetapi juga memiliki nilai besar dalam membentuk cara pandang manusia terhadap profesi, tanggung jawab sosial, hukum, dan kehidupan bermasyarakat.

    Pandangan tersebut disampaikan oleh Eko Wahyu Pramono, S.Tr.P., S.Ak, seorang praktisi pajak dan hukum, pemegang Izin Kuasa Hukum (IKH) di Pengadilan Pajak, sekaligus mahasiswa S2 Magister Hukum. Eko juga dikenal berasal dari garis keluarga ningrat R.Ng. Djoyodigdan, sehingga memiliki perhatian khusus terhadap nilai-nilai kebijaksanaan Jawa dan warisan pemikiran Nusantara.

    Eko mengaku mengagumi filsafat Ki Ageng Suryomentaram karena ajarannya sangat jujur dalam membaca manusia. Menurutnya, Kawruh Jiwa tidak sekadar mengajak orang memahami teori tentang kehidupan, tetapi menuntun manusia untuk berani melihat dirinya sendiri secara lebih dalam.

    “Saya mengagumi filsafat Ki Ageng Suryomentaram karena ajarannya sangat jujur dalam membaca manusia. Kawruh Jiwa mengajarkan kita untuk tidak hanya sibuk menilai dunia luar, tetapi juga berani melihat diri sendiri, memahami rasa, ego, dan keinginan yang sering menjadi sumber kegelisahan,” ujar Eko.

    Mengenal Ki Ageng Suryomentaram

    Ki Ageng Suryomentaram merupakan salah satu tokoh pemikir Jawa yang memiliki pengaruh besar dalam khazanah filsafat Nusantara. Ia lahir dengan nama Bendara Raden Mas Kudiarmadji pada 20 Mei 1892 dan dikenal sebagai putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII dari Keraton Yogyakarta.

    Meski lahir dari lingkungan bangsawan, Ki Ageng Suryomentaram justru memilih jalan hidup yang sederhana. Ia tidak hanya dikenal karena latar belakang keratonnya, tetapi lebih karena kedalaman pemikirannya dalam memahami manusia, rasa, keinginan, penderitaan, dan kebahagiaan.

    Dalam perjalanan hidupnya, Ki Ageng Suryomentaram banyak merenungkan persoalan batin manusia. Ia melihat bahwa sumber penderitaan manusia sering kali bukan hanya berasal dari keadaan luar, tetapi juga dari cara manusia memahami dirinya sendiri. Dari perenungan itulah lahir ajaran yang dikenal sebagai Kawruh Jiwa.

    Kawruh Jiwa sebagai Ilmu Memahami Diri

    Kawruh Jiwa merupakan ajaran utama Ki Ageng Suryomentaram. Secara sederhana, Kawruh Jiwa dapat dipahami sebagai ilmu untuk mengenali jiwa, rasa, dan gerak batin manusia. Ajaran ini mengajak setiap orang untuk memahami dirinya sendiri sebelum menilai orang lain atau keadaan di luar dirinya.

    Menurut Eko, kekuatan ajaran Ki Ageng Suryomentaram terletak pada kesederhanaannya. Ia tidak berbicara dengan bahasa yang rumit, tetapi langsung menyentuh pengalaman sehari-hari manusia, seperti rasa senang, susah, kecewa, takut, marah, iri, ingin dihargai, ingin menang, dan ingin merasa cukup.

    “Kawruh Jiwa itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Semua orang punya rasa senang, susah, takut, kecewa, marah, dan ingin dihargai. Ki Ageng Suryomentaram mengajarkan agar manusia tidak lari dari rasa itu, tetapi mengenalinya dengan jujur,” jelas Eko.

    Dalam pandangan tersebut, manusia tidak cukup hanya pintar secara intelektual. Manusia juga perlu memiliki kejernihan batin untuk memahami mengapa dirinya marah, mengapa dirinya kecewa, mengapa dirinya iri, dan mengapa dirinya terus merasa kurang meski sudah memiliki banyak hal.

    Pangawikan Pribadi dan Mawas Diri

    Salah satu inti ajaran Ki Ageng Suryomentaram adalah pangawikan pribadi, yaitu pengetahuan tentang diri sendiri. Ajaran ini mengajak manusia untuk melakukan mawas diri, melihat ke dalam batin, dan menyadari berbagai dorongan yang memengaruhi sikap serta tindakan.

    Bagi Eko, konsep mawas diri ini sangat penting, terutama bagi siapa pun yang menjalankan profesi di bidang hukum, pajak, pemerintahan, maupun pelayanan publik. Sebab, profesi yang bersentuhan dengan aturan, kewenangan, dan kepentingan masyarakat tidak cukup hanya dijalankan dengan kecerdasan teknis, tetapi juga harus disertai integritas dan kesadaran etis.

    “Dalam praktik hukum dan pajak, memahami aturan itu wajib. Tetapi lebih dari itu, seseorang juga harus mampu menjaga diri dari ego, kepentingan sempit, dan keinginan untuk merasa paling benar. Di titik inilah ajaran mawas diri menjadi sangat penting,” kata Eko.

    Menurutnya, ajaran Ki Ageng Suryomentaram dapat menjadi pengingat bahwa manusia perlu terus mengoreksi dirinya sendiri. Ketika seseorang memiliki jabatan, ilmu, atau kewenangan, ia justru harus semakin berhati-hati agar tidak terjebak pada kesombongan dan penyalahgunaan peran.

    Konsep Mulur-Mungkret dalam Kehidupan Modern

    Ajaran lain yang sangat dikenal dari Ki Ageng Suryomentaram adalah mulur-mungkret. Konsep ini menggambarkan sifat keinginan manusia yang terus bergerak. Ketika satu keinginan tercapai, keinginan itu akan mulur, melebar, atau bertambah. Sebaliknya, ketika keinginan tidak tercapai, manusia akan mengalami mungkret, yaitu rasa kecewa, sedih, atau merasa gagal.

    Konsep ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Banyak orang mengejar keberhasilan, jabatan, kekayaan, pengakuan sosial, atau popularitas. Namun, setelah satu target tercapai, sering kali muncul target lain yang lebih besar. Akibatnya, manusia terus berlari mengejar sesuatu tanpa pernah benar-benar merasa selesai.

    Eko menilai konsep mulur-mungkret menjadi kritik halus terhadap cara manusia modern memandang kebahagiaan. Jika kebahagiaan hanya digantungkan pada tercapainya keinginan, maka kebahagiaan itu akan selalu rapuh. Sebab, keinginan manusia tidak pernah benar-benar berhenti.

    “Ki Ageng Suryomentaram tidak mengajarkan manusia untuk tidak punya keinginan. Tetapi beliau mengingatkan agar manusia tidak diperbudak oleh keinginannya sendiri. Ini sangat relevan dengan zaman sekarang, ketika banyak orang merasa hidupnya kurang hanya karena terus membandingkan diri dengan orang lain,” ungkap Eko.

    Kramadangsa dan Ego Manusia

    Dalam Kawruh Jiwa juga dikenal istilah Kramadangsa, yaitu gambaran tentang keakuan atau ego manusia. Kramadangsa membuat seseorang merasa dirinya paling penting, ingin selalu dihormati, sulit menerima kekurangan, dan mudah tersinggung ketika keinginannya tidak terpenuhi.

    Menurut ajaran Ki Ageng Suryomentaram, ego yang tidak disadari dapat menjadi sumber penderitaan. Manusia menjadi mudah marah, iri, kecewa, dan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Karena itu, manusia perlu mengenali keberadaan ego tersebut agar tidak sepenuhnya dikendalikan olehnya.

    Eko menyebut bahwa pemahaman tentang Kramadangsa penting untuk membangun kedewasaan pribadi. Dalam kehidupan sosial, ego yang terlalu besar dapat merusak hubungan. Dalam dunia hukum, ego dapat mengaburkan rasa keadilan. Dalam profesi pajak, ego dan kepentingan sempit dapat mengganggu objektivitas serta integritas.

    “Jabatan, ilmu, dan kewenangan tidak boleh membuat manusia merasa lebih tinggi dari orang lain. Justru semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin penting pula kemampuan untuk mawas diri,” tegas Eko.

    Rasa Sama sebagai Dasar Empati

    Ki Ageng Suryomentaram juga mengajarkan tentang rasa sama, yaitu kesadaran bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki pengalaman rasa yang serupa. Semua orang bisa merasa senang, susah, takut, kecewa, marah, malu, ingin dihargai, dan ingin bahagia.

    Kesadaran tentang rasa sama ini dapat melahirkan empati. Manusia tidak lagi melihat orang lain semata-mata sebagai lawan, pesaing, atau objek kepentingan, tetapi sebagai sesama manusia yang juga memiliki rasa.

    Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, ajaran rasa sama penting untuk membangun sikap saling menghormati. Dalam konteks hukum, rasa sama dapat mendorong manusia untuk lebih adil. Dalam konteks pajak, rasa sama dapat mengingatkan bahwa kewajiban kepada negara bukan sekadar urusan administratif, tetapi juga bagian dari tanggung jawab bersama dalam kehidupan bernegara.

    Eko menilai bahwa rasa sama merupakan ajaran yang sangat manusiawi. Menurutnya, ketika seseorang menyadari bahwa orang lain juga memiliki rasa takut, rasa susah, dan rasa ingin dihargai, maka ia akan lebih berhati-hati dalam bersikap.

    Relevan untuk Hukum dan Pajak

    Sebagai praktisi pajak dan hukum, Eko melihat ajaran Ki Ageng Suryomentaram memiliki hubungan erat dengan etika profesi. Dalam dunia hukum dan pajak, seseorang berhadapan dengan aturan, kepentingan, data, angka, dokumen, dan keputusan yang berdampak pada orang lain.

    Namun, di balik semua itu, tetap ada manusia yang harus memiliki kejernihan batin. Tanpa kesadaran diri, profesi dapat berubah menjadi alat untuk mengejar kepentingan pribadi. Tanpa mawas diri, seseorang bisa merasa benar sendiri meskipun tindakannya merugikan orang lain.

    “Profesi hukum dan pajak membutuhkan ketelitian, tetapi juga membutuhkan integritas. Ajaran Ki Ageng Suryomentaram mengingatkan bahwa manusia perlu mengenali dirinya sendiri agar tidak mudah dikendalikan oleh ego dan kepentingan,” ujar Eko.

    Menurutnya, hukum tidak boleh dipahami hanya sebagai teks aturan, tetapi juga sebagai jalan untuk menjaga keadilan. Pajak pun tidak boleh dilihat hanya sebagai angka dan kewajiban administratif, tetapi juga sebagai instrumen tanggung jawab sosial dalam kehidupan bernegara.

    Penting untuk Generasi Muda

    Eko Wahyu Pramono menilai ajaran Ki Ageng Suryomentaram perlu dikenalkan kembali kepada generasi muda. Menurutnya, generasi hari ini hidup dalam tekanan yang berbeda dibanding masa lalu. Media sosial, persaingan karier, tekanan ekonomi, budaya pencitraan, dan tuntutan hidup yang semakin tinggi membuat banyak orang mudah merasa cemas dan kehilangan arah.

    Melalui Kawruh Jiwa, generasi muda dapat belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh validasi orang lain. Kebahagiaan juga tidak harus selalu diukur dari pencapaian materi, status sosial, atau popularitas. Kebahagiaan yang lebih dalam lahir ketika manusia mampu memahami dirinya sendiri, mengendalikan keinginan, dan hidup secara sadar.

    “Generasi muda perlu mengenal ajaran ini karena hidup sekarang banyak sekali gangguan batin. Orang mudah membandingkan diri, mudah merasa kurang, dan mudah gelisah. Kawruh Jiwa memberi jalan untuk kembali mengenali diri sendiri,” kata Eko.

    Warisan Filsafat Jawa yang Tetap Hidup

    Ki Ageng Suryomentaram wafat pada 18 Maret 1962, tetapi ajarannya terus hidup dan dibicarakan hingga kini. Ia tidak hanya dikenang sebagai bangsawan yang meninggalkan kemewahan, tetapi juga sebagai filsuf Jawa yang mengajarkan kesederhanaan, kejernihan batin, dan keberanian untuk memahami diri sendiri.

    Bagi Eko, ajaran Ki Ageng Suryomentaram merupakan bagian penting dari warisan intelektual Nusantara. Pemikirannya menunjukkan bahwa kebijaksanaan lokal Indonesia memiliki kedalaman yang kuat dan masih dapat digunakan untuk membaca persoalan manusia modern.

    Menurutnya, filsafat Jawa tidak boleh dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang jauh dari kehidupan hari ini. Sebaliknya, banyak nilai di dalamnya yang justru sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern yang semakin cepat, keras, dan penuh tekanan.

    “Dalam dunia yang semakin cepat, manusia sering lupa berhenti sejenak untuk memahami dirinya sendiri. Ajaran Ki Ageng Suryomentaram mengingatkan kita bahwa sebelum ingin menata dunia luar, manusia perlu lebih dulu menata batinnya,” pungkas Eko.

    Penutup

    Filsafat Ki Ageng Suryomentaram melalui Kawruh Jiwa memberi pelajaran penting bahwa manusia tidak cukup hanya mengejar keberhasilan lahiriah. Manusia juga perlu memahami rasa, mengenali ego, mengendalikan keinginan, dan membangun empati terhadap sesama.

    Melalui pandangan Eko Wahyu Pramono, S.Tr.P., S.Ak, ajaran tersebut menemukan relevansinya kembali dalam kehidupan modern, termasuk dalam dunia hukum dan perpajakan. Di tengah zaman yang dipenuhi tuntutan, ambisi, dan persaingan, Kawruh Jiwa menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari luar diri, tetapi dari kemampuan manusia memahami dirinya sendiri secara jernih.

     

     

    Filsafat Jawa Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram
    Share. Facebook Twitter Tumblr Email WhatsApp

    Related Posts

    Kasus Asuransi Kapal Pelni, KPK Tahan Empat Tersangka Dugaan Korupsi di Jasindo

    July 31, 2026

    Negara Bangun Kampus Baru, Persoalan UKT dan Kesejahteraan Dosen Belum Tuntas

    July 30, 2026

    Kenal Lebih Dekat Nano Widodo, Pendamping Hukum yang Bantu Debitur Selesaikan Persoalan Kredit

    July 30, 2026
    Terkini
    Budaya

    Warisan Filsafat Jawa Ki Ageng Suryomentaram dalam Pandangan Eko Wahyu Pramono

    By TresnandaJune 28, 20260

    Global-Nusantara.id – Yogyakarta, 28 Juni 2026 – Filsafat Ki Ageng Suryomentaram dinilai tetap relevan untuk…

    Wajib Dicoba..!! Makanan di Gabs Gastronomi Tidak Ada Nama Menu, Tapi Rasanya Enak Banget

    May 19, 2026

    Tradisi Sakral 1 Suro Keraton Surakarta, Merawat Pusaka dan Jati Diri Jawa

    June 20, 2026

    Tingkatkan Kompetensi Pajak, FERADI WPI Gelar Pelatihan C.FTAX

    May 23, 2026
    Tentang Kami

    PT GEMA NUSANTARA INDONESIA adalah perusahaan media digital yang menaungi GemaNusantara.id sebagai platform media siber dengan tagline “Berita untuk Indonesia”.

    Update

    Kasus Asuransi Kapal Pelni, KPK Tahan Empat Tersangka Dugaan Korupsi di Jasindo

    July 31, 2026

    Negara Bangun Kampus Baru, Persoalan UKT dan Kesejahteraan Dosen Belum Tuntas

    July 30, 2026
    Kontak

    Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia
    NIA : 001.0001.000088

    Email : saintadipati@gmail.com
    Kontak: 0888xxxxxxxxx

    Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Peraturan Media Siber
    • Redaksi
    • Kontak
    © 2026 Gema Nusantara.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.