GemaNusantara.id – Surabaya, 24 Mei 2026 – Jembatan Merah menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan sejarah Kota Surabaya. Bangunan yang berada di kawasan Pabean Cantian ini bukan hanya berfungsi sebagai penghubung wilayah, tetapi juga menyimpan jejak panjang perkembangan kota, mulai dari masa kolonial hingga masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Dalam data cagar budaya Pemerintah Kota Surabaya, Jembatan Merah disebut didirikan pada era Gubernur Jenderal Daendels tahun 1809 untuk menghubungkan wilayah timur Sungai Kalimas. Pada masa Revolusi 1945, kawasan ini menjadi salah satu titik konsentrasi kontak senjata antara arek-arek Suroboyo dan tentara Sekutu.
Jejak Kolonial di Kawasan Kota Lama
Sejak awal, Jembatan Merah memiliki posisi strategis dalam perkembangan Surabaya. Letaknya yang berada di kawasan Kota Lama menjadikannya bagian dari jalur penting aktivitas perdagangan, pemerintahan, dan mobilitas masyarakat pada masa kolonial.
Kawasan sekitar Jembatan Merah juga dikenal dekat dengan pusat perdagangan lama Surabaya. Hal ini membuat jembatan tersebut tidak hanya bernilai secara fisik sebagai infrastruktur, tetapi juga memiliki makna sejarah sebagai bagian dari pertumbuhan kota pelabuhan.
Titik Penting dalam Peristiwa 1945
Memasuki masa revolusi kemerdekaan, Jembatan Merah memiliki arti yang lebih besar. Kawasan ini menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian peristiwa menuju Pertempuran Surabaya.
Pada 1945, Surabaya menjadi medan perlawanan rakyat terhadap pasukan Sekutu. Pertempuran yang mencapai puncaknya pada 10 November 1945 kemudian menjadi simbol nasional perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme.
Di sekitar Jembatan Merah pula, sejarah mencatat adanya ketegangan besar yang melibatkan pejuang Surabaya dan tentara Sekutu. Kawasan ini kemudian dikenang sebagai salah satu ruang penting dalam memori perjuangan arek-arek Suroboyo.
Warisan Sejarah Kota Pahlawan
Kini, Jembatan Merah tetap berdiri sebagai bagian dari identitas Surabaya. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa kota ini tidak hanya tumbuh sebagai pusat perdagangan dan jasa, tetapi juga sebagai kota yang dibentuk oleh keberanian rakyatnya.
Sebagai bangunan cagar budaya, Jembatan Merah memiliki nilai penting untuk terus dirawat. Bukan hanya karena usia dan bentuk fisiknya, tetapi juga karena cerita sejarah yang melekat di dalamnya.
Destinasi Wisata Sejarah
Jembatan Merah juga dapat menjadi tujuan wisata sejarah bagi masyarakat, pelajar, komunitas, maupun wisatawan yang ingin memahami Surabaya dari sisi perjuangan dan perkembangan kota lama. Kementerian Pariwisata turut memasukkan Jembatan Merah sebagai salah satu tempat wisata sejarah Surabaya untuk napak tilas Hari Pahlawan.
Melalui Jembatan Merah, masyarakat dapat melihat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk museum atau monumen besar. Sebuah jembatan pun dapat menjadi saksi perjalanan panjang sebuah kota, dari masa kolonial, masa perdagangan, hingga masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Jembatan Merah akhirnya bukan sekadar penghubung dua sisi kota. Ia adalah penghubung antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan perjuangan dan tanggung jawab generasi sekarang untuk terus merawat sejarah Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
