GemaNusantara.id – Surabaya, 24 Mei 2026 – Gedung Siola menjadi salah satu bangunan cagar budaya penting di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya. Bangunan ini tidak hanya dikenal sebagai ikon perdagangan lama, tetapi juga menyimpan jejak sejarah dari masa kolonial hingga masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Sebelum dikenal sebagai Siola, gedung ini pernah digunakan sebagai toko serba ada Inggris bernama Whiteaway Laidlaw. Pemerintah Kota Surabaya mencatat Whiteaway Laidlaw sebagai salah satu merek dagang grosir terkenal pada masanya. Kini, Gedung Siola ditempati oleh Pemerintah Kota Surabaya dan tetap menjadi bagian penting dari wajah Kota Lama Surabaya.
Jejak Perdagangan Masa Kolonial
Pada masa Hindia Belanda, kawasan Jalan Tunjungan dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan. Gedung Siola menjadi salah satu bangunan yang menandai berkembangnya kawasan tersebut sebagai ruang niaga modern pada zamannya.
Sebagai bekas pusat pertokoan besar, gedung ini memperlihatkan bagaimana Surabaya tumbuh sebagai kota perdagangan. Letaknya yang strategis di pusat kota membuat Siola memiliki peran penting dalam mobilitas ekonomi masyarakat perkotaan.
Dari Whiteaway Laidlaw Menjadi Siola
Perjalanan Gedung Siola mencerminkan perubahan zaman di Surabaya. Gedung ini beberapa kali mengalami pergantian fungsi dan wajah, dari pusat pertokoan kolonial hingga kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai Toko Siola.
Nama Siola sendiri melekat kuat dalam ingatan warga Surabaya sebagai pusat perbelanjaan pada masanya. Meski fungsi bangunan berubah, nilai sejarahnya tetap menjadi bagian dari identitas kawasan Tunjungan.
Titik Pertahanan Pejuang Surabaya
Dalam masa Pertempuran Surabaya, Gedung Siola juga memiliki peran penting. Sejumlah catatan menyebut bangunan ini menjadi salah satu titik pertahanan pejuang saat menghadapi pasukan Sekutu. Gedung tersebut bahkan sempat mengalami kerusakan berat akibat situasi pertempuran.
Fakta ini memperkuat posisi Gedung Siola sebagai ruang sejarah yang tidak hanya terkait dengan perdagangan, tetapi juga dengan perjuangan rakyat Surabaya. Bangunan ini menjadi saksi bahwa perlawanan arek-arek Suroboyo berlangsung di berbagai sudut kota, termasuk kawasan komersial seperti Jalan Tunjungan.
Cagar Budaya yang Tetap Hidup
Kini, Gedung Siola tetap berdiri sebagai bagian dari cagar budaya Surabaya. Keberadaannya menunjukkan bahwa bangunan tua tidak harus kehilangan fungsi di tengah perkembangan kota modern.
Dengan pemanfaatan baru oleh Pemerintah Kota Surabaya, Gedung Siola menjadi contoh bagaimana warisan sejarah dapat terus dihidupkan tanpa menghapus nilai masa lalunya. Bangunan ini tetap menjadi pengingat atas perjalanan panjang Surabaya sebagai kota perdagangan, kota perjuangan, dan kota yang terus bergerak.
Destinasi Wisata Sejarah di Pusat Kota
Gedung Siola layak menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Surabaya. Lokasinya yang berada di Jalan Tunjungan membuat bangunan ini mudah dijangkau dan dapat menjadi bagian dari rute wisata heritage kota lama.
Bagi masyarakat, pelajar, maupun wisatawan, Gedung Siola menawarkan cerita sejarah yang lengkap. Di satu sisi, ia memperlihatkan jejak perdagangan kolonial. Di sisi lain, ia juga menyimpan memori perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Gedung Siola bukan sekadar bangunan lama di pusat kota. Ia adalah penanda perubahan zaman, saksi aktivitas perdagangan, sekaligus bagian dari ingatan perjuangan Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
