Gema-Nusantara.id – Jakarta, 9 Juli 2026 — Persoalan mengenai makna hidup menjadi salah satu pertanyaan terbesar yang terus dibahas dalam dunia filsafat. Ketika manusia berhadapan dengan kenyataan bahwa kehidupan tidak selalu memberikan jawaban pasti, muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia harus menciptakan makna sendiri atau menerima bahwa hidup memang tidak memiliki makna yang absolut?
Dua filsuf besar, Friedrich Nietzsche dan Albert Camus, memberikan pandangan berbeda mengenai persoalan tersebut. Nietzsche berpandangan bahwa manusia harus berani menciptakan makna baru dalam kehidupannya, sementara Camus menilai manusia perlu menerima kenyataan bahwa dunia tidak selalu memberikan jawaban atas pencarian makna tersebut.
Nietzsche dan Manusia yang Menciptakan Nilai Hidupnya Sendiri
Menurut Nietzsche, ketika nilai-nilai lama mulai kehilangan kekuatannya, manusia menghadapi kondisi di mana tidak ada lagi pedoman tunggal yang dapat menentukan seluruh kehidupannya. Namun, Nietzsche tidak melihat kondisi tersebut sebagai kehampaan, melainkan sebagai peluang bagi manusia untuk berkembang.
Melalui konsep Übermensch atau manusia unggul, Nietzsche menjelaskan bahwa manusia harus mampu melampaui keterbatasan dirinya dan menciptakan nilai-nilai baru.
Konsep manusia unggul bukan berarti manusia dengan kekuatan seperti pahlawan super, melainkan individu yang memiliki keberanian untuk berpikir mandiri, menentukan tujuan hidupnya, serta tidak hanya mengikuti nilai yang diwariskan tanpa mempertanyakannya.
Bagi Nietzsche, manusia yang unggul adalah manusia yang mampu mengambil kendali atas kehidupannya sendiri dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang dibuat.
Camus dan Keberanian Menerima Absurditas Kehidupan
Sementara itu, Camus melalui filsafat Absurdism menawarkan pandangan berbeda. Menurut Camus, manusia memiliki kecenderungan alami untuk mencari makna, tujuan, dan alasan atas keberadaannya.
Namun, manusia sering menemukan kenyataan bahwa alam semesta tidak memberikan jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Pertentangan antara keinginan manusia mencari makna dengan kenyataan dunia yang tidak memberikan kepastian inilah yang disebut Camus sebagai absurditas.
Meski demikian, Camus tidak mengajarkan manusia untuk menyerah terhadap kehidupan. Sebaliknya, ia mengajak manusia menerima kenyataan tersebut dan tetap menjalani hidup dengan kesadaran, keberanian, dan tanggung jawab.
Bagi Camus, hidup tetap memiliki nilai meskipun tidak ada makna universal yang diberikan oleh dunia.
Keduanya Mengajarkan Manusia Tidak Pasif Menghadapi Hidup
Menanggapi perbedaan pandangan kedua filsuf tersebut, praktisi pajak dan hukum Eko Wahyu Pramono, S.Tr.P., S.Ak menilai bahwa Nietzsche dan Camus sebenarnya memiliki kesamaan dalam melihat posisi manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan dan tanggung jawab.
“Nietzsche dan Camus memang mengambil jalan yang berbeda. Nietzsche mengatakan bahwa ketika hidup tidak memiliki makna yang tersedia, manusia harus menciptakan makna tersebut. Sedangkan Camus mengatakan bahwa ketika hidup tidak memberikan makna yang pasti, manusia harus menerima kenyataan itu dan tetap menjalani kehidupan,” ujar Eko.
Menurut Eko, kedua pemikiran tersebut sama-sama mengajarkan manusia agar tidak menjadi pribadi yang pasif.
“Nietzsche mendorong manusia untuk menciptakan nilai dan tujuan hidupnya sendiri. Camus mendorong manusia untuk berani menghadapi kenyataan tanpa kehilangan semangat hidup. Keduanya sama-sama berbicara mengenai keberanian manusia dalam menghadapi kondisi hidupnya,” jelasnya.
Pemikiran Nietzsche Sering Disalahpahami
Eko juga menyoroti bahwa pemikiran Nietzsche sering mengalami kesalahpahaman dalam sejarah. Salah satu contohnya adalah ketika gagasan Nietzsche dikaitkan dengan ideologi Nazi.
Menurut Eko, pemikiran Nietzsche tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai pembenaran terhadap kekuasaan atau kekerasan.
“Albert Camus sendiri sangat menghormati Nietzsche karena melihatnya sebagai pemikir besar yang berusaha memahami manusia dan nilai kehidupan. Persoalannya adalah banyak gagasan Nietzsche kemudian disalahgunakan dan dilepaskan dari konteks filosofisnya,” kata Eko.
Ia menjelaskan bahwa pemikiran seorang filsuf harus dipahami secara menyeluruh agar tidak terjadi penyimpangan terhadap gagasan aslinya.
Manusia Tetap Bertanggung Jawab Menentukan Jalan Hidup
Menurut Eko, perbedaan Nietzsche dan Camus pada akhirnya memberikan dua cara pandang dalam menghadapi kehidupan.
“Nietzsche mengajarkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan masa depan dan nilai hidupnya sendiri. Sementara Camus mengajarkan bahwa manusia harus mampu menerima ketidakpastian dan tetap memilih untuk hidup dengan penuh kesadaran,” ujarnya.
Ia menilai kedua filosofi tersebut masih relevan hingga saat ini karena manusia modern juga menghadapi berbagai persoalan mengenai tujuan hidup, tekanan sosial, dan pencarian identitas.
Pada akhirnya, Nietzsche dan Camus menawarkan dua jalan berbeda dalam memahami kehidupan. Nietzsche mengajak manusia menciptakan makna, sedangkan Camus mengajak manusia menerima absurditas kehidupan. Namun keduanya memiliki pesan yang sama bahwa manusia tidak boleh menyerahkan sepenuhnya arah hidupnya kepada keadaan.
Manusia tetap memiliki kebebasan untuk menentukan sikap, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas kehidupan yang dijalaninya.
