Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Gema nusantara
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Iklan
    • Home
    • Hukum
    • Pajak
    • Politik
    • Investasi
    • Ekonomi
    • Budaya
    • Sosial
    • Teknologi
    Gema nusantara
    Home » Bursa Asia Kompak Hijau, Yulianto Soroti Peluang Capital Inflow
    Ekonomi

    Bursa Asia Kompak Hijau, Yulianto Soroti Peluang Capital Inflow

    TresnandaBy TresnandaAugust 20, 2026Updated:August 20, 2026
    Share
    Facebook Twitter Email WhatsApp

    Gema-Nusantara.id – Surabaya, 20 Agustus 2026 – Mayoritas bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Kamis pagi, 20 Agustus 2026. Sentimen positif muncul setelah langkah pemerintah Amerika Serikat memperbesar pembelian kembali surat utang jangka panjang meredakan tekanan di pasar obligasi global.

    Berdasarkan pergerakan pasar sekitar pukul 08.18 WIB, Nikkei 225 Jepang naik 1,46%, sedangkan Hang Seng Hong Kong menguat 1,11%. Indeks Taiex Taiwan naik 0,96%, sementara Kospi Korea Selatan melesat sekitar 4,99% dan menjadi salah satu indeks dengan penguatan terbesar di kawasan.

    Di Australia, ASX 200 naik 0,29%, sedangkan FTSE Bursa Malaysia menguat 0,21%. Berbeda dengan mayoritas pasar regional, Straits Times Singapura turun sekitar 0,65%.

    Indeks MSCI Asia Pasifik juga menguat sekitar 1%, sekaligus memutus pelemahan dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.

    Buyback Treasury Redakan Tekanan Pasar

    Penguatan pasar saham Asia tidak terlepas dari langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat meningkatkan skala program pembelian kembali obligasi pemerintah berjangka panjang.

    Kebijakan buyback Treasury tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat membantu meningkatkan likuiditas pasar obligasi serta meredakan tekanan terhadap yield surat utang pemerintah AS.

    Tekanan pada yield Treasury sebelumnya ikut memberikan tekanan terhadap aset berisiko di berbagai negara. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, investor global cenderung melakukan penyesuaian portofolio karena instrumen berpendapatan tetap menjadi lebih menarik dibandingkan aset berisiko seperti saham.

    Sebaliknya, meredanya tekanan yield memberikan ruang bagi investor untuk kembali mengambil posisi pada pasar saham.

    Pasar Sedang Merespons Likuiditas, Bukan Hilangnya Risiko

    Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur sekaligus Ketua FERADI WPI DPC Sidoarjo, Adv. Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP, menilai penguatan bursa Asia perlu dibaca secara hati-hati karena pasar saat ini lebih banyak merespons meredanya tekanan likuiditas di pasar obligasi Amerika Serikat.

    Yulianto, yang juga aktif sebagai trader dan investor, mengatakan langkah pembelian kembali Treasury dapat memberikan efek psikologis positif terhadap pasar keuangan global karena mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan yield dalam jangka pendek.

    “Pasar saat ini merespons adanya ruang likuiditas yang lebih baik. Ketika yield Treasury mereda, appetite investor terhadap aset berisiko biasanya kembali meningkat. Tetapi kita jangan langsung mengartikan bahwa seluruh risiko ekonomi global sudah selesai,” ujar Yulianto.

    Menurutnya, persoalan mendasar seperti inflasi, beban utang pemerintah, arah suku bunga, hingga ketegangan geopolitik masih menjadi faktor yang dapat kembali memicu volatilitas.

    “Buyback Treasury bisa menjadi katalis positif bagi pasar dalam jangka pendek, tetapi fundamental fiskalnya tetap harus diperhatikan. Kalau kebutuhan pembiayaan pemerintah terus besar sementara inflasi masih menjadi risiko, pasar obligasi bisa kembali mengalami tekanan,” katanya.

    Bisa Jadi Sentimen Positif bagi IHSG

    Dari perspektif pasar modal Indonesia, Yulianto menilai penurunan tekanan yield obligasi AS berpotensi menjadi sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

    Menurutnya, yield Treasury merupakan salah satu variabel penting dalam keputusan investasi global. Ketika yield AS terlalu tinggi, dana investor asing cenderung lebih selektif memasuki pasar negara berkembang.

    Sebaliknya, apabila yield melandai dan dolar AS tidak terlalu kuat, ruang masuknya dana asing ke emerging markets dapat menjadi lebih besar.

    “Untuk Indonesia, kondisi ini pada prinsipnya positif. Ketika tekanan yield Amerika menurun, risk premium pasar berkembang menjadi relatif lebih menarik. Itu bisa membuka peluang capital inflow ke saham maupun obligasi Indonesia,” jelas Yulianto.

    Meski demikian, dia mengingatkan investor agar tidak sekadar mengikuti euforia penguatan indeks regional.

    “Trader harus membedakan antara momentum dengan perubahan tren fundamental. Bursa Asia hijau memang memberikan sentimen positif, tetapi keputusan beli tetap harus melihat valuasi, volume transaksi, foreign flow, serta kekuatan masing-masing sektor dan emiten,” ujarnya.

    Investor Jangan FOMO

    Sebagai trader aktif, Yulianto mengingatkan pelaku pasar ritel tidak melakukan pembelian hanya karena melihat bursa regional bergerak serempak menguat.

    Menurutnya, volatilitas global masih cukup tinggi sehingga disiplin terhadap trading plan dan manajemen risiko tetap diperlukan.

    “Kesalahan yang sering terjadi adalah investor masuk ketika melihat semua indeks hijau lalu menganggap harga pasti terus naik. Padahal sentimen global dapat berbalik sangat cepat. Jangan FOMO. Tetapkan area beli, batas risiko, dan target keuntungan sejak awal,” tegasnya.

    Untuk investor jangka menengah dan panjang, menurut Yulianto, koreksi maupun volatilitas tetap dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap terhadap emiten dengan fundamental kuat.

    Ia menilai saham-saham berkapitalisasi besar, sektor keuangan, komoditas, serta emiten yang sensitif terhadap arus modal asing patut dicermati apabila sentimen risk-on global berlanjut.

    Namun, keputusan investasi tetap harus mempertimbangkan kondisi masing-masing emiten dan tidak hanya bergantung pada pergerakan indeks global.

    Fiskal dan Moneter Indonesia Tetap Jadi Kunci

    Yulianto menambahkan bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sentimen eksternal. Fundamental domestik, terutama koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter, tetap menjadi penentu daya tahan pasar nasional.

    Menurutnya, pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal, sementara otoritas moneter perlu memastikan stabilitas nilai tukar, inflasi, dan likuiditas tetap terjaga.

    “Sentimen global bisa memberikan angin positif, tetapi daya tahan pasar Indonesia tetap ditentukan rumah kita sendiri. Disiplin fiskal, inflasi yang terkendali, stabilitas rupiah, dan kepercayaan investor adalah fondasinya,” kata Yulianto.

    Ia menambahkan bahwa pasar keuangan pada akhirnya sangat sensitif terhadap kepercayaan.

    “Investor global tidak hanya melihat berapa besar return yang bisa diperoleh, tetapi juga bagaimana risiko fiskal, moneter, regulasi dan stabilitas ekonomi dikelola. Kalau confidence terjaga, Indonesia memiliki peluang memperoleh manfaat ketika aliran dana global kembali mencari aset berisiko,” pungkasnya.

    Pasar Tetap Mewaspadai Risiko Global

    Meski sentimen terhadap aset berisiko membaik, volatilitas pasar diperkirakan belum sepenuhnya mereda.

    Investor masih mencermati perkembangan inflasi, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, kondisi fiskal Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi dan perdagangan global.

    Bagi investor Indonesia, perkembangan tersebut penting diperhatikan karena perubahan yield Treasury, dolar AS, dan risk appetite global dapat memengaruhi arus modal asing, nilai tukar rupiah, pasar obligasi, hingga pergerakan IHSG.

    Penguatan bursa Asia pada Kamis pagi dengan demikian menjadi sinyal positif bagi pasar, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa periode volatilitas global telah berakhir.

     

    Bursa Asia Investasi Saham Pasar Modal Yulianto Kiswocahyono
    Share. Facebook Twitter Tumblr Email WhatsApp

    Related Posts

    Peringatan Pidana dalam Pemeriksaan Ahli Dipersoalkan Dr. Alessandro Rey

    October 6, 2026

    Bawa Pesan Kasih dan Penguatan Rohani, Benni Rusli Layani Warga Binaan Lapas Subang

    October 6, 2026

    Sunan Kalijaga dan Donny Andretti Bertemu, Bahas Akses Keadilan bagi Masyarakat

    October 5, 2026
    Terkini
    Ekonomi

    Yulianto Kiswocahyono Soroti Pelemahan Rupiah

    By TresnandaJuly 27, 20260

    Gema-Nusantara.id – Jakarta, 27 Juli 2026 – Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis terhadap dolar…

    Yulianto Kiswocahyono dan Eko Wahyu Pramono Hadirkan Kajian Kritis Hukum Pajak

    September 17, 2026

    Yulianto dan Eko Wahyu Soroti Turunnya Kemenangan DJP di Pengadilan Pajak

    May 26, 2026

    Yulianto dan Eko Serahkan Buku Pengadilan Pajak kepada Ketua KADIN Jatim

    September 23, 2026
    Tentang Kami

    PT GEMA NUSANTARA INDONESIA adalah perusahaan media digital yang menaungi GemaNusantara.id sebagai platform media siber dengan tagline “Berita untuk Indonesia”.

    Update

    Peringatan Pidana dalam Pemeriksaan Ahli Dipersoalkan Dr. Alessandro Rey

    October 6, 2026

    Bawa Pesan Kasih dan Penguatan Rohani, Benni Rusli Layani Warga Binaan Lapas Subang

    October 6, 2026
    Kontak

    Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia
    NIA : 001.0001.000088

    Email : saintadipati@gmail.com
    Kontak: 0888xxxxxxxxx

    Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Peraturan Media Siber
    • Redaksi
    • Kontak
    © 2026 Gema Nusantara.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.