Gema-Nusantara.id – Surabaya, 20 Agustus 2026 – Mayoritas bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Kamis pagi, 20 Agustus 2026. Sentimen positif muncul setelah langkah pemerintah Amerika Serikat memperbesar pembelian kembali surat utang jangka panjang meredakan tekanan di pasar obligasi global.
Berdasarkan pergerakan pasar sekitar pukul 08.18 WIB, Nikkei 225 Jepang naik 1,46%, sedangkan Hang Seng Hong Kong menguat 1,11%. Indeks Taiex Taiwan naik 0,96%, sementara Kospi Korea Selatan melesat sekitar 4,99% dan menjadi salah satu indeks dengan penguatan terbesar di kawasan.
Di Australia, ASX 200 naik 0,29%, sedangkan FTSE Bursa Malaysia menguat 0,21%. Berbeda dengan mayoritas pasar regional, Straits Times Singapura turun sekitar 0,65%.
Indeks MSCI Asia Pasifik juga menguat sekitar 1%, sekaligus memutus pelemahan dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.
Buyback Treasury Redakan Tekanan Pasar
Penguatan pasar saham Asia tidak terlepas dari langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat meningkatkan skala program pembelian kembali obligasi pemerintah berjangka panjang.
Kebijakan buyback Treasury tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat membantu meningkatkan likuiditas pasar obligasi serta meredakan tekanan terhadap yield surat utang pemerintah AS.
Tekanan pada yield Treasury sebelumnya ikut memberikan tekanan terhadap aset berisiko di berbagai negara. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, investor global cenderung melakukan penyesuaian portofolio karena instrumen berpendapatan tetap menjadi lebih menarik dibandingkan aset berisiko seperti saham.
Sebaliknya, meredanya tekanan yield memberikan ruang bagi investor untuk kembali mengambil posisi pada pasar saham.
Pasar Sedang Merespons Likuiditas, Bukan Hilangnya Risiko
Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur sekaligus Ketua FERADI WPI DPC Sidoarjo, Adv. Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP, menilai penguatan bursa Asia perlu dibaca secara hati-hati karena pasar saat ini lebih banyak merespons meredanya tekanan likuiditas di pasar obligasi Amerika Serikat.
Yulianto, yang juga aktif sebagai trader dan investor, mengatakan langkah pembelian kembali Treasury dapat memberikan efek psikologis positif terhadap pasar keuangan global karena mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan yield dalam jangka pendek.
“Pasar saat ini merespons adanya ruang likuiditas yang lebih baik. Ketika yield Treasury mereda, appetite investor terhadap aset berisiko biasanya kembali meningkat. Tetapi kita jangan langsung mengartikan bahwa seluruh risiko ekonomi global sudah selesai,” ujar Yulianto.
Menurutnya, persoalan mendasar seperti inflasi, beban utang pemerintah, arah suku bunga, hingga ketegangan geopolitik masih menjadi faktor yang dapat kembali memicu volatilitas.
“Buyback Treasury bisa menjadi katalis positif bagi pasar dalam jangka pendek, tetapi fundamental fiskalnya tetap harus diperhatikan. Kalau kebutuhan pembiayaan pemerintah terus besar sementara inflasi masih menjadi risiko, pasar obligasi bisa kembali mengalami tekanan,” katanya.
Bisa Jadi Sentimen Positif bagi IHSG
Dari perspektif pasar modal Indonesia, Yulianto menilai penurunan tekanan yield obligasi AS berpotensi menjadi sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurutnya, yield Treasury merupakan salah satu variabel penting dalam keputusan investasi global. Ketika yield AS terlalu tinggi, dana investor asing cenderung lebih selektif memasuki pasar negara berkembang.
Sebaliknya, apabila yield melandai dan dolar AS tidak terlalu kuat, ruang masuknya dana asing ke emerging markets dapat menjadi lebih besar.
“Untuk Indonesia, kondisi ini pada prinsipnya positif. Ketika tekanan yield Amerika menurun, risk premium pasar berkembang menjadi relatif lebih menarik. Itu bisa membuka peluang capital inflow ke saham maupun obligasi Indonesia,” jelas Yulianto.
Meski demikian, dia mengingatkan investor agar tidak sekadar mengikuti euforia penguatan indeks regional.
“Trader harus membedakan antara momentum dengan perubahan tren fundamental. Bursa Asia hijau memang memberikan sentimen positif, tetapi keputusan beli tetap harus melihat valuasi, volume transaksi, foreign flow, serta kekuatan masing-masing sektor dan emiten,” ujarnya.
Investor Jangan FOMO
Sebagai trader aktif, Yulianto mengingatkan pelaku pasar ritel tidak melakukan pembelian hanya karena melihat bursa regional bergerak serempak menguat.
Menurutnya, volatilitas global masih cukup tinggi sehingga disiplin terhadap trading plan dan manajemen risiko tetap diperlukan.
“Kesalahan yang sering terjadi adalah investor masuk ketika melihat semua indeks hijau lalu menganggap harga pasti terus naik. Padahal sentimen global dapat berbalik sangat cepat. Jangan FOMO. Tetapkan area beli, batas risiko, dan target keuntungan sejak awal,” tegasnya.
Untuk investor jangka menengah dan panjang, menurut Yulianto, koreksi maupun volatilitas tetap dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap terhadap emiten dengan fundamental kuat.
Ia menilai saham-saham berkapitalisasi besar, sektor keuangan, komoditas, serta emiten yang sensitif terhadap arus modal asing patut dicermati apabila sentimen risk-on global berlanjut.
Namun, keputusan investasi tetap harus mempertimbangkan kondisi masing-masing emiten dan tidak hanya bergantung pada pergerakan indeks global.
Fiskal dan Moneter Indonesia Tetap Jadi Kunci
Yulianto menambahkan bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sentimen eksternal. Fundamental domestik, terutama koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter, tetap menjadi penentu daya tahan pasar nasional.
Menurutnya, pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal, sementara otoritas moneter perlu memastikan stabilitas nilai tukar, inflasi, dan likuiditas tetap terjaga.
“Sentimen global bisa memberikan angin positif, tetapi daya tahan pasar Indonesia tetap ditentukan rumah kita sendiri. Disiplin fiskal, inflasi yang terkendali, stabilitas rupiah, dan kepercayaan investor adalah fondasinya,” kata Yulianto.
Ia menambahkan bahwa pasar keuangan pada akhirnya sangat sensitif terhadap kepercayaan.
“Investor global tidak hanya melihat berapa besar return yang bisa diperoleh, tetapi juga bagaimana risiko fiskal, moneter, regulasi dan stabilitas ekonomi dikelola. Kalau confidence terjaga, Indonesia memiliki peluang memperoleh manfaat ketika aliran dana global kembali mencari aset berisiko,” pungkasnya.
Pasar Tetap Mewaspadai Risiko Global
Meski sentimen terhadap aset berisiko membaik, volatilitas pasar diperkirakan belum sepenuhnya mereda.
Investor masih mencermati perkembangan inflasi, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, kondisi fiskal Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi dan perdagangan global.
Bagi investor Indonesia, perkembangan tersebut penting diperhatikan karena perubahan yield Treasury, dolar AS, dan risk appetite global dapat memengaruhi arus modal asing, nilai tukar rupiah, pasar obligasi, hingga pergerakan IHSG.
Penguatan bursa Asia pada Kamis pagi dengan demikian menjadi sinyal positif bagi pasar, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa periode volatilitas global telah berakhir.
