GemaNusantara.id – Blitar, 22 Mei 2026 – Pesanggrahan Djojodigdan menjadi salah satu titik sejarah penting di Kota Blitar. Bangunan tua yang berada di Jalan Melati 43, Kota Blitar, ini dikenal sebagai peninggalan Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, seorang Patih Blitar yang namanya masih hidup dalam ingatan masyarakat melalui kisah sejarah, arsitektur lama, hingga makam yang populer disebut “makam gantung”.
Rumah Tua yang Menyimpan Jejak Pemerintahan Blitar
Pesanggrahan Djojodigdan bukan sekadar rumah lama. Situs ini menjadi penanda masa ketika Blitar berkembang dalam struktur pemerintahan tradisional dan kolonial. JatimTimes mencatat rumah peninggalan Patih Djojodigdo ini berdiri di kawasan Jalan Melati, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Bangunan tersebut disebut masih mempertahankan nuansa rumah joglo Jawa dengan halaman dan ruang-ruang lama yang memperlihatkan karakter hunian bangsawan pada masanya.
Keberadaan pesanggrahan ini membuat Blitar tidak hanya dikenal melalui Makam Bung Karno, Istana Gebang, atau Candi Penataran, tetapi juga melalui warisan sejarah lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat kota. Di dalam narasi sejarah Blitar, nama Djojodigdo kerap dikaitkan dengan peran patih sebagai pejabat penting yang mendampingi bupati dalam mengelola pemerintahan daerah.
Sosok Patih Djojodigdo dalam Ingatan Masyarakat
Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo dikenal sebagai Patih Blitar pada masa Bupati KPH Warsokoesoemo. Sejumlah catatan lokal menyebut Djojodigdo lahir pada 29 Juli 1827 dan wafat pada 11 Maret 1909. DetikJatim menulis keterangan tersebut berdasarkan penjelasan juru kunci makam, Lasiman, saat ditemui di Padepokan Djojodigdo pada 2018.
Dalam ingatan masyarakat, sosok Djojodigdo tidak hanya dilihat dari jabatan pemerintahan. Namanya juga hidup dalam cerita lisan tentang kesaktian, ilmu pancasona, dan sejumlah kisah mistis yang berkembang dari generasi ke generasi. Namun, dalam penulisan sejarah dan wisata budaya, cerita-cerita tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai tradisi lisan, bukan sebagai fakta sejarah yang berdiri sendiri.
Makam Gantung yang Menjadi Daya Tarik Utama
Salah satu daya tarik paling dikenal dari Pesanggrahan Djojodigdan adalah makam yang disebut “makam gantung”. Sebutan ini sering membuat pengunjung penasaran karena seolah-olah makam tersebut benar-benar menggantung. Namun, berdasarkan laporan DetikJatim, makam itu tidak digantung. Posisi nisannya hanya dibuat lebih tinggi dibandingkan makam lain di area tersebut.
Nisan Eyang Djojodigdo dibangun dengan pondasi bertingkat. Dalam penjelasan juru kunci yang dikutip DetikJatim, sebutan makam gantung muncul karena benda-benda seperti ilmu, baju kebesaran, dan senjata Djojodigdo disebut digantung di atas pusaranya. Penjelasan ini membuat makam tersebut memiliki daya tarik tersendiri, baik bagi peziarah, pemerhati sejarah, maupun wisatawan yang tertarik pada kisah lokal Blitar.
Perpaduan Wisata Sejarah, Religi, dan Budaya
Pesanggrahan Djojodigdan memiliki posisi unik karena memadukan tiga unsur sekaligus: sejarah, religi, dan budaya. Dari sisi sejarah, tempat ini menyimpan jejak tokoh lokal yang pernah berperan dalam pemerintahan Blitar. Dari sisi religi, area makam menjadi tujuan ziarah bagi sebagian masyarakat. Dari sisi budaya, bangunan lama dan cerita rakyat di sekitarnya menjadi bagian dari identitas lokal yang sulit ditemukan di destinasi wisata modern.
Karena itu, Pesanggrahan Djojodigdan berpotensi menjadi ruang edukasi sejarah bagi generasi muda. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat makam, tetapi juga dapat mengenal bagaimana struktur sosial, arsitektur, dan tradisi masyarakat Blitar terbentuk pada masa lalu.
Perlu Pelestarian dan Pengelolaan Lebih Informatif
Di tengah perkembangan kota, keberadaan bangunan tua seperti Pesanggrahan Djojodigdan perlu mendapat perhatian serius. Situs sejarah tidak cukup hanya dipertahankan secara fisik, tetapi juga perlu diberi narasi yang jelas, papan informasi, dokumentasi, dan akses kunjungan yang tertata.
Pengelolaan yang baik dapat membuat pesanggrahan ini lebih mudah dipahami publik tanpa menghilangkan nilai sakral yang dihormati masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, Pesanggrahan Djojodigdan dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah-religi yang tertib, edukatif, dan tetap menghargai adat setempat.
Warisan Lokal yang Tidak Boleh Hilang
Pesanggrahan Djojodigdan adalah bagian dari memori Blitar. Di balik bangunan tua, makam gantung, dan cerita yang menyelimutinya, terdapat pesan penting tentang pentingnya menjaga warisan lokal. Tempat ini mengingatkan bahwa sejarah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip resmi, tetapi juga dalam bangunan, makam, cerita keluarga, dan ingatan masyarakat.
Jika dikelola dengan tepat, Pesanggrahan Djojodigdan tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga ruang belajar tentang sejarah Blitar, peran tokoh lokal, dan kekayaan budaya Jawa yang masih bertahan hingga hari ini.
