Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Gema nusantara
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Iklan
    • Home
    • Hukum
    • Pajak
    • Politik
    • Investasi
    • Ekonomi
    • Budaya
    • Sosial
    • Teknologi
    Gema nusantara
    Home » Pesanggrahan Djojodigdan, Jejak Sejarah Patih Blitar yang Menjadi Daya Tarik Wisata Religi
    Budaya

    Pesanggrahan Djojodigdan, Jejak Sejarah Patih Blitar yang Menjadi Daya Tarik Wisata Religi

    TresnandaBy TresnandaMay 22, 2026
    Share
    Facebook Twitter Email WhatsApp

    GemaNusantara.id – Blitar, 22 Mei 2026 – Pesanggrahan Djojodigdan menjadi salah satu titik sejarah penting di Kota Blitar. Bangunan tua yang berada di Jalan Melati 43, Kota Blitar, ini dikenal sebagai peninggalan Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, seorang Patih Blitar yang namanya masih hidup dalam ingatan masyarakat melalui kisah sejarah, arsitektur lama, hingga makam yang populer disebut “makam gantung”.

    Rumah Tua yang Menyimpan Jejak Pemerintahan Blitar

    Pesanggrahan Djojodigdan bukan sekadar rumah lama. Situs ini menjadi penanda masa ketika Blitar berkembang dalam struktur pemerintahan tradisional dan kolonial. JatimTimes mencatat rumah peninggalan Patih Djojodigdo ini berdiri di kawasan Jalan Melati, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Bangunan tersebut disebut masih mempertahankan nuansa rumah joglo Jawa dengan halaman dan ruang-ruang lama yang memperlihatkan karakter hunian bangsawan pada masanya.

    Keberadaan pesanggrahan ini membuat Blitar tidak hanya dikenal melalui Makam Bung Karno, Istana Gebang, atau Candi Penataran, tetapi juga melalui warisan sejarah lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat kota. Di dalam narasi sejarah Blitar, nama Djojodigdo kerap dikaitkan dengan peran patih sebagai pejabat penting yang mendampingi bupati dalam mengelola pemerintahan daerah.

    Sosok Patih Djojodigdo dalam Ingatan Masyarakat

    Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo dikenal sebagai Patih Blitar pada masa Bupati KPH Warsokoesoemo. Sejumlah catatan lokal menyebut Djojodigdo lahir pada 29 Juli 1827 dan wafat pada 11 Maret 1909. DetikJatim menulis keterangan tersebut berdasarkan penjelasan juru kunci makam, Lasiman, saat ditemui di Padepokan Djojodigdo pada 2018.

    Dalam ingatan masyarakat, sosok Djojodigdo tidak hanya dilihat dari jabatan pemerintahan. Namanya juga hidup dalam cerita lisan tentang kesaktian, ilmu pancasona, dan sejumlah kisah mistis yang berkembang dari generasi ke generasi. Namun, dalam penulisan sejarah dan wisata budaya, cerita-cerita tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai tradisi lisan, bukan sebagai fakta sejarah yang berdiri sendiri.

    Makam Gantung yang Menjadi Daya Tarik Utama

    Salah satu daya tarik paling dikenal dari Pesanggrahan Djojodigdan adalah makam yang disebut “makam gantung”. Sebutan ini sering membuat pengunjung penasaran karena seolah-olah makam tersebut benar-benar menggantung. Namun, berdasarkan laporan DetikJatim, makam itu tidak digantung. Posisi nisannya hanya dibuat lebih tinggi dibandingkan makam lain di area tersebut.

    Nisan Eyang Djojodigdo dibangun dengan pondasi bertingkat. Dalam penjelasan juru kunci yang dikutip DetikJatim, sebutan makam gantung muncul karena benda-benda seperti ilmu, baju kebesaran, dan senjata Djojodigdo disebut digantung di atas pusaranya. Penjelasan ini membuat makam tersebut memiliki daya tarik tersendiri, baik bagi peziarah, pemerhati sejarah, maupun wisatawan yang tertarik pada kisah lokal Blitar.

    Perpaduan Wisata Sejarah, Religi, dan Budaya

    Pesanggrahan Djojodigdan memiliki posisi unik karena memadukan tiga unsur sekaligus: sejarah, religi, dan budaya. Dari sisi sejarah, tempat ini menyimpan jejak tokoh lokal yang pernah berperan dalam pemerintahan Blitar. Dari sisi religi, area makam menjadi tujuan ziarah bagi sebagian masyarakat. Dari sisi budaya, bangunan lama dan cerita rakyat di sekitarnya menjadi bagian dari identitas lokal yang sulit ditemukan di destinasi wisata modern.

    Karena itu, Pesanggrahan Djojodigdan berpotensi menjadi ruang edukasi sejarah bagi generasi muda. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat makam, tetapi juga dapat mengenal bagaimana struktur sosial, arsitektur, dan tradisi masyarakat Blitar terbentuk pada masa lalu.

    Perlu Pelestarian dan Pengelolaan Lebih Informatif

    Di tengah perkembangan kota, keberadaan bangunan tua seperti Pesanggrahan Djojodigdan perlu mendapat perhatian serius. Situs sejarah tidak cukup hanya dipertahankan secara fisik, tetapi juga perlu diberi narasi yang jelas, papan informasi, dokumentasi, dan akses kunjungan yang tertata.

    Pengelolaan yang baik dapat membuat pesanggrahan ini lebih mudah dipahami publik tanpa menghilangkan nilai sakral yang dihormati masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, Pesanggrahan Djojodigdan dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah-religi yang tertib, edukatif, dan tetap menghargai adat setempat.

    Warisan Lokal yang Tidak Boleh Hilang

    Pesanggrahan Djojodigdan adalah bagian dari memori Blitar. Di balik bangunan tua, makam gantung, dan cerita yang menyelimutinya, terdapat pesan penting tentang pentingnya menjaga warisan lokal. Tempat ini mengingatkan bahwa sejarah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip resmi, tetapi juga dalam bangunan, makam, cerita keluarga, dan ingatan masyarakat.

    Jika dikelola dengan tepat, Pesanggrahan Djojodigdan tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga ruang belajar tentang sejarah Blitar, peran tokoh lokal, dan kekayaan budaya Jawa yang masih bertahan hingga hari ini.

     

    Budaya Jawa Cagar Budaya Blitar Destinasi Blitar Djojodigdan Blitar Kepanjenkidul Makam Gantung Blitar Patih Blitar Pesanggrahan Djojodigdan Sejarah Blitar Wisata Blitar Wisata Religi Wisata Sejarah
    Share. Facebook Twitter Tumblr Email WhatsApp

    Related Posts

    Peringatan Pidana dalam Pemeriksaan Ahli Dipersoalkan Dr. Alessandro Rey

    October 6, 2026

    Bawa Pesan Kasih dan Penguatan Rohani, Benni Rusli Layani Warga Binaan Lapas Subang

    October 6, 2026

    Prabowo Lantik Rocky Gerung Jadi Wantimpres

    October 3, 2026
    Terkini
    Ekonomi

    Yulianto Kiswocahyono Soroti Pelemahan Rupiah

    By TresnandaJuly 27, 20260

    Gema-Nusantara.id – Jakarta, 27 Juli 2026 – Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis terhadap dolar…

    Yulianto Kiswocahyono dan Eko Wahyu Pramono Hadirkan Kajian Kritis Hukum Pajak

    September 17, 2026

    Yulianto dan Eko Wahyu Soroti Turunnya Kemenangan DJP di Pengadilan Pajak

    May 26, 2026

    Yulianto dan Eko Serahkan Buku Pengadilan Pajak kepada Ketua KADIN Jatim

    September 23, 2026
    Tentang Kami

    PT GEMA NUSANTARA INDONESIA adalah perusahaan media digital yang menaungi GemaNusantara.id sebagai platform media siber dengan tagline “Berita untuk Indonesia”.

    Update

    Peringatan Pidana dalam Pemeriksaan Ahli Dipersoalkan Dr. Alessandro Rey

    October 6, 2026

    Bawa Pesan Kasih dan Penguatan Rohani, Benni Rusli Layani Warga Binaan Lapas Subang

    October 6, 2026
    Kontak

    Ikatan Wartawan Jagat Raya Indonesia
    NIA : 001.0001.000088

    Email : saintadipati@gmail.com
    Kontak: 0888xxxxxxxxx

    Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Peraturan Media Siber
    • Redaksi
    • Kontak
    © 2026 Gema Nusantara.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.