Gema-Nusantara.id – 28 September 2026 – Sejarah awal Republik Indonesia tidak hanya diwarnai perjuangan bersenjata dan diplomasi. Di balik berdirinya pemerintahan yang baru merdeka, terdapat persoalan lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana negara memperoleh sumber daya untuk menjalankan pemerintahan sekaligus mempertahankan kemerdekaan.
Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam fase tersebut adalah Dr. Samsi Sastrawidagda, Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia.
Samsi ditunjuk sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Presidensial pertama pada 19 Agustus 1945, hanya dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Kementerian Keuangan ketika itu masih berada dalam tahap awal pembentukan dan belum memiliki struktur administrasi seperti sekarang.
Meski masa tugasnya berlangsung singkat, Samsi tercatat dalam salah satu episode penting sejarah keuangan awal Republik, terutama berkaitan dengan upaya mengamankan sumber dana bagi pemerintahan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Latar Belakang Akademis dan Pergerakan
Samsi Sastrawidagda lahir di Surakarta pada 13 Maret 1894. Ia mendapatkan pendidikan di Hindia Belanda sebelum melanjutkan studi ke Belanda.
Di Rotterdam, Samsi menempuh pendidikan ekonomi dan kemudian memperoleh gelar doktor pada 1925. Disertasinya membahas perkembangan politik perdagangan Jepang. Latar belakang akademis tersebut menjadi salah satu bekal penting ketika ia dipercaya menangani persoalan keuangan Republik yang baru berdiri.
Samsi juga memiliki pengalaman dalam pergerakan nasional. Ia pernah berada dalam lingkungan organisasi pergerakan dan berhubungan dengan sejumlah tokoh nasional, termasuk Soekarno.
Pada masa pendudukan Jepang, Samsi bekerja di Surabaya sebagai Kepala Kantor Tata Usaha dan Pajak. Pengalaman tersebut membuatnya memahami administrasi keuangan sekaligus memiliki jaringan dengan sejumlah pejabat Jepang.
Pengetahuan dan pengalaman tersebut kemudian menjadi modal penting ketika Republik Indonesia membutuhkan sumber dana pada hari-hari pertama kemerdekaan.
Operasi Penggedoran Bank
Pada masa awal kemerdekaan, pemerintah Republik menghadapi persoalan besar. Negara yang baru berdiri belum memiliki sistem keuangan yang mapan, sementara kebutuhan untuk menjalankan pemerintahan dan mempertahankan kemerdekaan terus meningkat.
Samsi mengetahui adanya dana yang tersimpan di Bank Escompto di Surabaya. Bank tersebut merupakan bagian dari sistem keuangan yang telah ada sebelum Indonesia merdeka dan pada masa pendudukan berada dalam penguasaan Jepang.
Dalam situasi tersebut, dilakukan upaya untuk mengamankan dana yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan Republik.
Skema yang kemudian dikenal sebagai Operasi Penggedoran Bank menjadi salah satu episode menarik dalam sejarah keuangan Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Dalam operasi tersebut, pengambilan uang dari Bank Escompto dilakukan dalam situasi yang menyerupai aksi perampasan. Namun, langkah tersebut disebut telah memperoleh koordinasi tertentu dengan pihak Jepang di Surabaya untuk menghindari persoalan yang lebih besar.
Pelaksanaan operasi melibatkan sejumlah tokoh di Surabaya, termasuk Mustopo dan Mohammad Mangundiprodjo.
Dana yang berhasil dikeluarkan dari bank kemudian diamankan dan dipindahkan dari Surabaya. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan dana kembali dikuasai pihak lain seiring kedatangan pasukan Sekutu.
Dana untuk Republik
Jumlah dana yang berhasil diamankan dalam operasi tersebut disebut mencapai sekitar 100 juta gulden.
Dari jumlah tersebut, sekitar 35 juta gulden disebut dikirim kepada pemerintah pusat sebagai modal awal kas negara. Sementara sebagian lainnya digunakan untuk mendukung kebutuhan perjuangan di daerah.
Dana tersebut menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk berbagai kebutuhan pada masa revolusi, termasuk logistik dan aktivitas kelompok-kelompok yang mempertahankan Republik di Surabaya.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa mempertahankan kemerdekaan pada 1945 bukan hanya persoalan kekuatan militer. Pemerintah yang baru berdiri juga membutuhkan sumber pembiayaan agar administrasi negara dapat berjalan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dapat terus dilakukan.
Masa Jabatan yang Singkat
Masa pengabdian Samsi sebagai Menteri Keuangan berlangsung singkat.
Terdapat perbedaan pencatatan mengenai akhir masa jabatannya. Laman resmi Kementerian Keuangan mencatat Samsi menjabat sejak 19 Agustus hingga 2 September 1945, kemudian digantikan Alexander Andries Maramis. Dokumen sejarah Kementerian Keuangan juga mencatat Samsi mengundurkan diri karena kondisi kesehatannya.
Sementara sejumlah catatan sejarah lainnya menyebut Samsi masih menjalankan tugas hingga September 1945.
Perbedaan pencatatan tersebut menunjukkan pentingnya melihat berbagai arsip dan sumber sejarah secara kritis ketika membahas periode awal Republik Indonesia yang berlangsung dalam situasi politik dan administratif yang sangat dinamis.
Terlepas dari perbedaan pencatatan mengenai masa akhir jabatannya, Samsi tetap tercatat sebagai Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia.
Ia menjadi bagian dari generasi awal pejabat Republik yang harus membangun fondasi pemerintahan dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Warisan Sejarah Samsi
Samsi Sastrawidagda kemudian menjalani kehidupan di Surabaya hingga wafat pada 1963 dalam usia 69 tahun.
Namanya mungkin tidak selalu berada di garis depan narasi sejarah kemerdekaan. Namun, perannya dalam persoalan keuangan Republik menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan memiliki banyak dimensi.
Kementerian Keuangan menempatkan Samsi sebagai bagian penting dalam sejarah awal kementerian tersebut. Pembentukan Departemen Keuangan pada 19 Agustus 1945 menjadi bagian dari proses awal pembentukan struktur pemerintahan Republik Indonesia.
Kisah Samsi juga memperlihatkan bahwa pada masa-masa awal kemerdekaan, negara harus bergerak cepat dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, pemerintah harus menghadapi persoalan administrasi negara, keuangan, keamanan, hingga kebutuhan perjuangan mempertahankan kedaulatan.
Karena itu, sejarah Samsi Sastrawidagda bukan semata kisah seorang menteri yang memiliki masa jabatan singkat. Ia merupakan bagian dari cerita tentang bagaimana Republik Indonesia mulai membangun fondasi keuangan negara di tengah situasi politik dan keamanan yang belum stabil.
Dari Surakarta, Rotterdam, dunia pergerakan, hingga Surabaya pada hari-hari pertama Republik, perjalanan Samsi menunjukkan bahwa pembangunan sebuah negara tidak hanya membutuhkan gagasan politik, tetapi juga kemampuan mengelola sumber daya agar pemerintahan yang baru lahir dapat terus berjalan.
